12 Agustus 2009

Kakak & Adek ( kisah suami )

Luar biasa... Perkembangan kk (4.5) & ad (2) kadang membuat kami terksima. Tingkah lucunya, kosa katanya, celetukan-celetukan, sampai pada gaya terbaru dari "tantrum"nya. :) Begitulah. Kami lewati hari-hari berempat di sebuah rumah mungil tak berpagar sambil menikmati hari-hari perubahan kedua "kembang soca" kami. "Duh, adek sudah tak mungkin lagi dapat peluk-cium eyang karena "bageur" seperti dulu, " kata isteri suatu ketika. "Emangnya kenapa, Yang!"
"Bayangkan, tadi pagi bunda dipukul dengan sendok. Setelah itu dia menyambar telepon dan mempreteli kabel-kabelnya. Lalu semua mainan dilempar-lemparkan. Berputar ke kamar mandi ambil gayung dan menyiram sekeliling dan bikin becek di 'ruang tengah'. Hhhehh!" desahnya.

"Belum lagi si kakak! Kenapa ya dia belum juga bisa rapi??! Padahal perempuan dan sudah 4.5 tahun... Alih-alih bantu bunda beresin rumah, malah membuat semua mainan dan alat tulis serta buku-buku berserakan di lantai! Bunda capek, Bi!" Terlihat sudut matanya mulai basah. Hal tersebut biasanya terjadi jika ketika dia datang (dalam keadaan capek) dari kegiatan mendapati rumah bak kapal pecah. FYI, kadang isteri meninggalkan anak-anak berdua di rumah kalau mengikuti kegiatan yang durasinya tidak lebih dari 2 jam saja. Khawatir? Aku tentu saja. Tapi isteri yang berdarah Madura mengatakan bahwa itu adalah bagian dari pelajaran hidup mandiri bagi mereka. Subhanallah... aku tidak bisa berkomentar. Sejak kami pindah di rumah "kontrakan" baru ini (masih ngontrak ke BTN), kami tidak lagi punya pembantu. Disamping karena pembantu susah, bayarnya mahal, juga rumah yang kecil tidak mungkin ditambahi lagi penghuni dewasa. Walaupun kelahiran anak ke-2 kami membuat kami --terutama isteri :) -- nyaris repot 2 kali lipat. Karakter si Adek yang "fenomenal" juga menambah kerepotan isteri tinggal dikalikan saja. Padahal pada saat yang sama, isteri yang baru 3 tahun berada di tatar sunda menjadi semakin sibuk dengan kegiatan "luar"-nya. Mengisi majelis2 ta'lim, mengajar anak2 di TPA --perjuangan-- Baabus Salaam, dan nyaris tiap hari menerima ibu-ibu yang belajar privat IQRO merupakan kegiatan-kegiatan domestik perumahan yang tak henti dijalaninya. Belum kegiatan-kegiatan luar rumah seperti LSM dan kepartaian. Mobilitas tersebut sama sekali tidak disertai dengan alat-alat kelengkapan yang memadai, seperti kendaraan misalnya. Luar Biasa!! Dua kata itu saja yang bisa kugumamkan tatkala melihat isteri yang kecil mungil dengan dua anak bersimbah peluh berebut naik angkutan pedesaan untuk memberi pengajian di majelis ta'lim ibu-ibu yang terletak agak jauh ke luar kota. "Ya, Rabb! Berikanlah mobil kepada kami... " doa kakak polos.
Ya, Rabb! Berikan keberkahan kepada isteri dan anak-anakku. Berikan pengampunanMu kepadaku yang tidak bisa membahagiakan mereka dengan fasilitas yang memudahkannya dalam berdakwah. Jadikanlah amal shalih mereka juga kebanggaanku di akhirat kelak. Bunda, KK, Adek.. nanti Abi terusin ya... Jan'08 **dsw



Tidak ada komentar:

Posting Komentar