“Anak adalah penyejuk hati,” ungkapan itu benar adanya. Saat memperoleh “kado” dari Allah, apalagi Allah memberi kami 2 orang anak, yang pertama perempuan berusia 5 tahun, yang kedua laki-laki berusia 2 tahun, semakin lengkaplah kebahagiaan hati kami ini. Semuanya terasa indah.
Anak anak memanggil kami Abi dan Bunda. Ada satu hal yang membuat kami tertawa dan takjub bila menyaksikan tingkah laku anak-anak, mereka banyak membuat “kejutan-kejutan kecil”. Bila suami gak berada di dekat mereka, biasanya sepulang kerja, aku ceritakan perkembangan terbaru dan surprise kecil dari mereka.
Anakku yang pertama, Bita, suka menasehati kami tentang arti bersyukur. Pernah suatu hari Bita kuajak ke supermarket di kota. Ketika ada pengemis dan anaknya yang usianya sama dengan dia, dia disuruh untuk memberi uang tersebut kepada pengemis itu. Lantas dia bilang, ”Bunda seharusnya kita bersyukur ya masih punya rumah, bisa lihat TV, makan enak dan tidur di kasur. Gimana dengan pengemis itu ya bunda, mungkin mereka gak punya rumah, gak bisa lihat tv, tidur dimana ya? Apa mereka pernah beli coklat seperti kakak (dia menyebut dirinya dengan kakak)? Kujawab “mungkin gak pernah karena mereka gak punya uang.” Lantas dia menimpali, “kalo gitu coklat dan biskuit kakak diberikan kepada anak pengemis itu ya bunda?”
Ah, hatiku langsung gerimis.
Terkadang dia suka mendoakan kami (abi, bunda dan adiknya) tanpa kami ajari dan kami minta, seperti ketika ada hujan deras, dia berdo’a “Ya Allah mohon lindungi Abi, Bunda, Kakak dan adik dari syetan, beri kami kesembuhan dan uang yang banyak, Amin”
Fathi lain lagi. Dia suka menyentuh apa saja yang dia ingin tahu, tapi mempunyai hobi yang unik, yaitu suka membawa dan menciumi baju atau jilbabku yang sudah atau sedang dipakai. Kebiasaan ini terjadi jika Fathi kutinggal pergi untuk pengajian, majelis ta’lim, atau kegiatan lainnya. Tatkala terbangun, jilbab atau bajuku dipeluk dan diseret-seret kemanapun.
Saat ditinggal pergi agak lama, dia ditinggal berdua dengan kakaknya, (kami tidak punya pembantu di rumah), dia tertidur sambil beralaskan baju atau jilbabku. Kakaknya yang menyelimuti dan menunggui sambil bercerita. Saat suatu sore ditinggal agak lama karena aku harus mengisi pengajian di sebuah tempat. Setibanya di rumah Kakak dan Adik sudah mandi dan berpakaian walaupun kondisi kamar mandi berantakan. “Bunda kita dah mandi, tadi adik diceboki, dibuka pampersnya sama kakak.” Ketika kuceritakan ke suami pada malam harinya, suami sangat terharu dan langsung memeluk mereka satu per satu.
Ah, apalagi yang bisa kami lakukan saat itu, kecuali tertawa dengan hati takjub mendengarkan, dan melihat kejutan-kejutan kecil dari mereka. Tak sekedar mengamati tingkah laku mereka, kami sadar sepenuhnya mereka berdua adalah amanah bagi kami, orangtuanya. Tanggung jawab kamilah untuk merawat dan mendidiknya agar mereka bisa tumbuh jadi anak yang shalih, kuat, dan cerdas dunia akhirat… **eny
12 Agustus 2009
Anak-anak yang Menginspirasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar