KAKAK terlihat senang karena tanggal 17 agustus 2009 hari libur, seharian dia dirumah, nonton tv, main dengan adek. Semua mainan dikeluarkannya dari dalam dus. Acak-acakan..? Tentu. Tapi biarlah, mungkin ini saatnya dia juga merasakan kemerdekaannya untuk berekspresi. Jadi teringat pula tulisan di spanduk yang terpasang di atas jembatan, "kemerdekaan sejati lahir dari keberanian mengikuti kata hati".
Ketika dia nonton tv, semua stasiun tv menayangkan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia di berbagai tempat. Ada upacara di atas tebing dan di dalam laut. Ada yang di atas gunung dengan banyak penaklukan gunung2 di Indonesia maupun dunia. Ada juga yang di dasar bumi alias di gua bawah tanah.
Pokoknya Agustusan tahun ini terasa berbeda sekali. Entah karena seluruh "pesta" demokrasi telah usai sehingga masyarakat dan pemerintah begitu punya waktu untuk menyelenggarakannya dengan sangat meriah. Atau mungkin pula sebagai resultan positif dari kejadian teror bom dan penangkapan para teroris yang terjadi di berbagai tempat. Puncaknya adalah penangkapan salahseorang pelaku teror atau dalang teror yang sampai memakan waktu 18 jam dengan adegan reality show yang terasa heroik, sehingga membakar semangat segenap anak bangsa bahwa kita bisa memerangi mereka.
Kulihat kakak sedang asyik menyaksikan siaran langsung upacara pengibaran bendera dari depan istana negara yang disiarkan oleh seluruh stasiun tv, sehingga ia tidak punya pilihan kecuali melihatnya. Saat penghormatan bendera oleh peserta upacara, kakak berkomentar, "kenapa sih mereka menghormat bendera? Tidak takut kepada Allah ya bunda? Harusnya mereka menghormat Allah bukan bendera? Bendera itu kan hanya sebuah benda."
Mendengar itu aku tak bisa berkata apa-apa.
20 Agustus 2009
Agustusan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar