ibu ...terbuat dari apakah hatimu, walau kau tlah bekrja 24 jam full sehari, tiada guratan letih di wajahmu hanya senyuman
19 Desember 2009
I Luv Ibu
kambingpun ingin masuk surga
cerita dari teman, sewaktu mendekati hari raya qurban banyak orang-orang yang mencari hewan untuk kurban, baik itu sapi ataupun kambing.tak ketinggalan juga temanku yang waktu itu mau berkurban untuk anaknya, setelah survey kesana kemari cari kambing, akhirnya dapat seekor kambing yang bagus.setelah mendapat harga yg disepakati akhirnya kambing itu pun dibawa pulang,
karena waktu hari raya qurban tinggal seminggu lagi sang suami sudah membuatkan kandang untuk kambing tersebut yang terletakdisamping rumahnya.setiap hari kambing tersebut diberi makan, tapi itu tak membuat si kambing betah rupanya dalam keadaan "terpasung", sehingga sering kambing tersebut merusak kandangnya dengan cara membentur-benturkan kepalanya ke tiang penyangga kandang. wal hasil kambing tersebut bisa "escape" dari kandangnya, tapi tiap kali juga behasil ditemukan karena lepasnya tak jauh dari rumah temanku. Nah, ketika hari raya qurban tiba, kambing tersebut dikeluarkan dari kandang oleh anak temanku, mungkin karena dia ingin bebas, anak temanku dibawanya lari sekencang-kencang sampai terjatuh, dan akhirnya nangis. sang kambingpun akhirnya melenggang jalan sendirian, ketika sang suami berhasil memegang talinya,kambing itu pun tetap berontak, akhirnya lepas juga talinya dan kambing itupun lari masuk ke halaman masjid tempat para kambing disembelih.dan kambing tersebut diam dan duduk (kayak yang nunggu giliran untuk disembelih)...Subhanallah" kata suami temanku, "mungkin dia ingin cepat -cepat disembelih ya??
24 November 2009
05 September 2009
Penggunaan Antibiotika Pada Anak
Antibiotika (AB) merupakan obat yang sangat berperan dalam memerangi infeksi yang ditimbulkan oleh kuman. Walaupun pemakaian AB yang baik berlaku untuk semua umur, AB untuk populasi pediatrik perlu memperoleh perhatian khusus karena kecenderungan pemakaian yang berlebihan. Klinik dokter anak dipenuhi dengan pasien anak yang hampir setiap 1-3 minggu datang kembali - kebanyakan - dengan keluhan yang sama, yaitu demam, batuk dan pilek. Hal ini merupakan fenomen yang tidak terjadi di negara Barat. Anak kecil, terutama bayi, membutuhkan pertumbuhan sehat tanpa AB bila memang tidak ada kepastian infeksi kuman.
Yang lebih memprihatinkan lagi ialah bahwa populasi anak memang merupakan golongan umur yang tidak mempunyai data tentang pemakaiannya, karena tidak / jarang dilakukan uji klinik seperti terhadap orang dewasa. Dosis obatnya-pun tidak dilakukan dose-ranging studies (studi penentuan dosis) yang cukup kompleks. Walaupun tidak ada peraturan yang tidak membolehkan penelitian pada anak di seluruh dunia, perijinan obat pada anak jarang diberikan secara khusus oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, dan anehnya tidak diminta oleh FDA sebagai syarat perijinan pemasaran. Hal ini berlaku di seluruh dunia, seolah ada hambatan melakukan studi pada anak. Khusus di Jepang wanita juga tidak boleh (dilarang) dipakai sebagai subyek percobaan uji klinik. Hal ini menimbulkan tidak adanya data pada kedua jenis manusia tentang pemakaian obat. Pada hal orang tua diminta juga datanya oleh FDA bila diperlukan, karena mereka khusus bereaksi lain dibanding populasi muda.
Selain itu, juga selalu dikatakan bahwa anak bukanlah merupakan orang dewasa kecil, karena mereka memiliki sifat2 yang bisa sangat berbeda. Ini menyebabkan penentuan dosis pada anak terjadi dengan perhitungan umur/12 atau berat badan /berat badan dewasa kali dosis dewasa. Perhitungan empirik ini sering tidak bisa diterapkan, karena berlaku bahwa ‘anak bukan dewasa kecil’. Mereka berbeda dalam banyak hal, seperti penyerapan usus, metabolisme obat, ekskresi obat, dan juga kepekaan reseptor dalam tubuh. Obat, seperti oseltamivir (obat flu burung), juga lebih mudah melewati sekat darah-otak (blood-brain barrier) pada bayi, sehingga efek samping kematian bisa mengejutkan. Hasil penelitian pada anak sulit diperoleh dan juga tidak mudah dilakukan, sehingga data mengenai efektivitas, efek samping dan dosis, terutama tidak ada. Dokter anak , anehnya, harus mengobati tanpa bukti (evidence), yang berbeda dengan orang dewasa yang sering diteliti sangat jelimet dan menghabiskan biaya luar biasa. Ini dapat dimengerti jika kita ketahui bahwa sebagian besar ini dibiayai pabrik obat untuk obat2 yang banyak dipakai seperti obat darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, cancer, dsb. Penelitian yang mahal sekalipun sering membawa keuntungan yang sangat banyak, bila memperoleh hasil yang superior dibanding obat produksi lawannya. Satu-dua obat seperti itu, yang disebut ‘blockbuster’ (sales lebih dari $ billions) sudah dapat menutupi keuntungan untuk semua obat yang dimiliki pabrik.
Baru sejak akhir abad yang lalu dibuat undang-undang di Amerika Serikat yang disebut Pediatric Exclusivity Right untuk ‘anjuran’ pabrik obat melakukan uji klinik pada anak dengan ‘upah eksklusif’ memperoleh waktu hak paten tambahan sepanjang ~ ½ tahun. Setelah peraturan ini sekitar 500 obat telah dilakukan uji klinik baru/tambahan (terutama di Canada dan AS) untuk anak, walaupun hanya diperlukan 1-2 uji klinik saja. Ini jelas tidak memenuhi kebutuhan uji klinik untuk evaluasi obat yang baik. Semua ini membutuhkan pekerjaan di bidang Pediatric Clinical Pharmacology yang pertama berkembang terbaik di Canada di tahun 2000-an dan sebelumnya.
Di Asia dan Indonesia penelitian uji klinik untuk anak perlu sekali dimajukan, karena banyak obat tidak jelas kegunaannya dan besar dosisnya. Penentuan dosis obat-jadi (dewasa dan anak) dilakukan oleh industri yang menyontek dari dosis anak di negara penemu obat, yang juga ditentukan tanpa penelitian. Ini menyebabkan kita tidak pernah bisa menakar dosis pada anak dengan benar. Misalnya saja, dosis untuk obat dasar yang banyak dipakai pasien anak, seperti parasetamol.efedrin, CTM, atau kodein jelas terlalu besar. Ini menyebabkan dokter yang sadar tentang overdose yang sebenarnya terjadi di seluruh dunia perlu membuat resep racikan yang lebih sesuai. Bila anak diberi parasetamol dan kemudian berkeringat banyak, ini mungkin tandanya dosis terlalu besar, namun tidak semua kasus overdose bisa memiliki tanda seperti ini.
Di negara maju, obat untuk anak hanya sedikit digunakan karena anak sebenarnya merupakan mahluk yang jarang sakit, terutama bila diberi air susu ibu cukup karena mengandung bahan2 imunitas tubuh secara alamiah. Walaupun demikian pertumbuhan anak dihadang oleh berbagai penyakit yang belum dimiliki daya imunitasnya, terutama virus. Namun penyakit virus seperti ini sebagian besar tidak berbahaya karena sembuh sendiri, dan anak yang sehat segera akan membuat zat anti (imunitas) yang tangguh. Jadi mengisolasi anak di rumah saja tidaklah bijak, sebaliknya membawa anak bermain di mall menimbulkan pemaparan terhadap banyak jenis virus sekaligus. Sekolahpun menimbulkan pemaparan yang sangat intens karena hubungan dengan teman2 baru – yang sering menularkan virus lewat jalan pernapasan yang biasa merupakan penyakit anak seperti cacar air, gondongan, measles, flu, dsb. Setelah periode pertumbuhan di sekolah SD maka anak menjadi lebih tahan terhadap penyakit virus. Pemaparan terhadap berbagai virus merupakan ‘pembelajaran’ sistem imun tubuh anak yang tidak bisa dihindarkan dan harus terjadi dalam proses tumbuh kembang anak.
Dari data National Center for Health Statistics di AS (JAMA 1998) diperoleh bahwa AB ialah obat yang paling sering dipakai untuk anak, yaitu 75% dari semua kunjungan klinik (outpatient visits). Di Canada angka ini juga sebesar 74%. AB ini dipakai untuk 5 penyakit utama yaitu: otitis media, sinusitis, bronchitis, pharyngitis, dan infeksi asluran napas atas non- spesifik (virus). Data ini telah diperoleh sebelum 1998, karena semua penyakit di atas sekarang telah dibuktikan dalam banyak uji klinik di banyak negara bahwa AB sama hasilnya dengan plasebo, alias tidak efektif. Juga di negara Barat sekarang pemakaian AB untuk ke-lima penyakit virus anak itu tidak dipakai lagi karena evidence-nya sangat kuat. Namun, diperlukan obat2 simtomatik (mengurangkan gejala seperti pilek dan batuk, atau demam) untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangkan penderitaan, sambil istirahat.
Di Indonesia peresepan AB untuk penyakit2 virus masih marak (mungkin ~ 90%), menimbulkan terhambatnya pembentukan imunitas anak, (justru) memperpanjang lamanya penyakit, membunuh kuman yang baik dalam tubuh (karena memang tidak ada kuman yang jahat), efek samping AB bertambah banyak, menimbulkan resistensi kuman terhadap AB yang merugikan seluruh masyarakat dan diri sendiri, kemungkinan komplikasi lebih besar, dan kembalinya anak ke dokter lebih sering karena terulang penyakitnya, serta menghabiskan biaya secara mubazir. Penyakit virus tidak perlu diobati AB bila ditemukan tanpa komplikasi. Antibiotik, misalnya amoksisilin juga tidak tepat untuk dipakai rutin sebagai obat pencegah komplikasi karena komplikasi sangat jarang (mungkin ~ 2 - 3 %) terjadi dan bila terjadi-pun antibiotiknya harus yang terpilih khas dan khusus efektif untuk kuman yang akan menghinggapi, dan ini tidak bisa diramalkan. Sebagai kesimpulan, antibiotik untuk gondongan, measles, atau cacar air dan 5 jenis penyakit virus yang disebut di atas sebaiknya tidak dipakai lagi secara rutin oleh dokter kita dan masyarakat supaya tidak justru menagih pada dokter yang akan mengobatinya.
Dr Iwan Darmansjah
Mantan Ketua Panitia Evaluasi Obat, Departemen Kesehatan
http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=317
20 Agustus 2009
Agustusan...
KAKAK terlihat senang karena tanggal 17 agustus 2009 hari libur, seharian dia dirumah, nonton tv, main dengan adek. Semua mainan dikeluarkannya dari dalam dus. Acak-acakan..? Tentu. Tapi biarlah, mungkin ini saatnya dia juga merasakan kemerdekaannya untuk berekspresi. Jadi teringat pula tulisan di spanduk yang terpasang di atas jembatan, "kemerdekaan sejati lahir dari keberanian mengikuti kata hati".
Ketika dia nonton tv, semua stasiun tv menayangkan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia di berbagai tempat. Ada upacara di atas tebing dan di dalam laut. Ada yang di atas gunung dengan banyak penaklukan gunung2 di Indonesia maupun dunia. Ada juga yang di dasar bumi alias di gua bawah tanah.
Pokoknya Agustusan tahun ini terasa berbeda sekali. Entah karena seluruh "pesta" demokrasi telah usai sehingga masyarakat dan pemerintah begitu punya waktu untuk menyelenggarakannya dengan sangat meriah. Atau mungkin pula sebagai resultan positif dari kejadian teror bom dan penangkapan para teroris yang terjadi di berbagai tempat. Puncaknya adalah penangkapan salahseorang pelaku teror atau dalang teror yang sampai memakan waktu 18 jam dengan adegan reality show yang terasa heroik, sehingga membakar semangat segenap anak bangsa bahwa kita bisa memerangi mereka.
Kulihat kakak sedang asyik menyaksikan siaran langsung upacara pengibaran bendera dari depan istana negara yang disiarkan oleh seluruh stasiun tv, sehingga ia tidak punya pilihan kecuali melihatnya. Saat penghormatan bendera oleh peserta upacara, kakak berkomentar, "kenapa sih mereka menghormat bendera? Tidak takut kepada Allah ya bunda? Harusnya mereka menghormat Allah bukan bendera? Bendera itu kan hanya sebuah benda."
Mendengar itu aku tak bisa berkata apa-apa.
17 Agustus 2009
Inspirasi
"Biarkan jemari mereka menulis mimpi-mimpinya saat cahaya datang esok pagi". Sebuah epilog dari film entah apa di sebuah stasiun TV
selengkapnya...12 Agustus 2009
Anak-anak yang Menginspirasi
“Anak adalah penyejuk hati,” ungkapan itu benar adanya. Saat memperoleh “kado” dari Allah, apalagi Allah memberi kami 2 orang anak, yang pertama perempuan berusia 5 tahun, yang kedua laki-laki berusia 2 tahun, semakin lengkaplah kebahagiaan hati kami ini. Semuanya terasa indah.
Anak anak memanggil kami Abi dan Bunda. Ada satu hal yang membuat kami tertawa dan takjub bila menyaksikan tingkah laku anak-anak, mereka banyak membuat “kejutan-kejutan kecil”. Bila suami gak berada di dekat mereka, biasanya sepulang kerja, aku ceritakan perkembangan terbaru dan surprise kecil dari mereka.
Anakku yang pertama, Bita, suka menasehati kami tentang arti bersyukur. Pernah suatu hari Bita kuajak ke supermarket di kota. Ketika ada pengemis dan anaknya yang usianya sama dengan dia, dia disuruh untuk memberi uang tersebut kepada pengemis itu. Lantas dia bilang, ”Bunda seharusnya kita bersyukur ya masih punya rumah, bisa lihat TV, makan enak dan tidur di kasur. Gimana dengan pengemis itu ya bunda, mungkin mereka gak punya rumah, gak bisa lihat tv, tidur dimana ya? Apa mereka pernah beli coklat seperti kakak (dia menyebut dirinya dengan kakak)? Kujawab “mungkin gak pernah karena mereka gak punya uang.” Lantas dia menimpali, “kalo gitu coklat dan biskuit kakak diberikan kepada anak pengemis itu ya bunda?”
Ah, hatiku langsung gerimis.
Terkadang dia suka mendoakan kami (abi, bunda dan adiknya) tanpa kami ajari dan kami minta, seperti ketika ada hujan deras, dia berdo’a “Ya Allah mohon lindungi Abi, Bunda, Kakak dan adik dari syetan, beri kami kesembuhan dan uang yang banyak, Amin”
Fathi lain lagi. Dia suka menyentuh apa saja yang dia ingin tahu, tapi mempunyai hobi yang unik, yaitu suka membawa dan menciumi baju atau jilbabku yang sudah atau sedang dipakai. Kebiasaan ini terjadi jika Fathi kutinggal pergi untuk pengajian, majelis ta’lim, atau kegiatan lainnya. Tatkala terbangun, jilbab atau bajuku dipeluk dan diseret-seret kemanapun.
Saat ditinggal pergi agak lama, dia ditinggal berdua dengan kakaknya, (kami tidak punya pembantu di rumah), dia tertidur sambil beralaskan baju atau jilbabku. Kakaknya yang menyelimuti dan menunggui sambil bercerita. Saat suatu sore ditinggal agak lama karena aku harus mengisi pengajian di sebuah tempat. Setibanya di rumah Kakak dan Adik sudah mandi dan berpakaian walaupun kondisi kamar mandi berantakan. “Bunda kita dah mandi, tadi adik diceboki, dibuka pampersnya sama kakak.” Ketika kuceritakan ke suami pada malam harinya, suami sangat terharu dan langsung memeluk mereka satu per satu.
Ah, apalagi yang bisa kami lakukan saat itu, kecuali tertawa dengan hati takjub mendengarkan, dan melihat kejutan-kejutan kecil dari mereka. Tak sekedar mengamati tingkah laku mereka, kami sadar sepenuhnya mereka berdua adalah amanah bagi kami, orangtuanya. Tanggung jawab kamilah untuk merawat dan mendidiknya agar mereka bisa tumbuh jadi anak yang shalih, kuat, dan cerdas dunia akhirat… **eny
Kakak & Adek ( kisah suami )
Luar biasa... Perkembangan kk (4.5) & ad (2) kadang membuat kami terksima. Tingkah lucunya, kosa katanya, celetukan-celetukan, sampai pada gaya terbaru dari "tantrum"nya. :) Begitulah. Kami lewati hari-hari berempat di sebuah rumah mungil tak berpagar sambil menikmati hari-hari perubahan kedua "kembang soca" kami. "Duh, adek sudah tak mungkin lagi dapat peluk-cium eyang karena "bageur" seperti dulu, " kata isteri suatu ketika. "Emangnya kenapa, Yang!"
"Bayangkan, tadi pagi bunda dipukul dengan sendok. Setelah itu dia menyambar telepon dan mempreteli kabel-kabelnya. Lalu semua mainan dilempar-lemparkan. Berputar ke kamar mandi ambil gayung dan menyiram sekeliling dan bikin becek di 'ruang tengah'. Hhhehh!" desahnya.
"Belum lagi si kakak! Kenapa ya dia belum juga bisa rapi??! Padahal perempuan dan sudah 4.5 tahun... Alih-alih bantu bunda beresin rumah, malah membuat semua mainan dan alat tulis serta buku-buku berserakan di lantai! Bunda capek, Bi!" Terlihat sudut matanya mulai basah. Hal tersebut biasanya terjadi jika ketika dia datang (dalam keadaan capek) dari kegiatan mendapati rumah bak kapal pecah. FYI, kadang isteri meninggalkan anak-anak berdua di rumah kalau mengikuti kegiatan yang durasinya tidak lebih dari 2 jam saja. Khawatir? Aku tentu saja. Tapi isteri yang berdarah Madura mengatakan bahwa itu adalah bagian dari pelajaran hidup mandiri bagi mereka. Subhanallah... aku tidak bisa berkomentar. Sejak kami pindah di rumah "kontrakan" baru ini (masih ngontrak ke BTN), kami tidak lagi punya pembantu. Disamping karena pembantu susah, bayarnya mahal, juga rumah yang kecil tidak mungkin ditambahi lagi penghuni dewasa. Walaupun kelahiran anak ke-2 kami membuat kami --terutama isteri :) -- nyaris repot 2 kali lipat. Karakter si Adek yang "fenomenal" juga menambah kerepotan isteri tinggal dikalikan saja. Padahal pada saat yang sama, isteri yang baru 3 tahun berada di tatar sunda menjadi semakin sibuk dengan kegiatan "luar"-nya. Mengisi majelis2 ta'lim, mengajar anak2 di TPA --perjuangan-- Baabus Salaam, dan nyaris tiap hari menerima ibu-ibu yang belajar privat IQRO merupakan kegiatan-kegiatan domestik perumahan yang tak henti dijalaninya. Belum kegiatan-kegiatan luar rumah seperti LSM dan kepartaian. Mobilitas tersebut sama sekali tidak disertai dengan alat-alat kelengkapan yang memadai, seperti kendaraan misalnya. Luar Biasa!! Dua kata itu saja yang bisa kugumamkan tatkala melihat isteri yang kecil mungil dengan dua anak bersimbah peluh berebut naik angkutan pedesaan untuk memberi pengajian di majelis ta'lim ibu-ibu yang terletak agak jauh ke luar kota. "Ya, Rabb! Berikanlah mobil kepada kami... " doa kakak polos.
Ya, Rabb! Berikan keberkahan kepada isteri dan anak-anakku. Berikan pengampunanMu kepadaku yang tidak bisa membahagiakan mereka dengan fasilitas yang memudahkannya dalam berdakwah. Jadikanlah amal shalih mereka juga kebanggaanku di akhirat kelak. Bunda, KK, Adek.. nanti Abi terusin ya... Jan'08 **dsw
Sara Bokker, Hidayah Allah untuk Sang Model
Kehidupan glamour dan dunia entertainment merupakan gaya hidup yang mengantarkan penikmatnya pada kemerosotan moral.
''Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya. Dan, barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk) niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.'' (QS Al-An'am: 39).
Ayat serupa juga dapat ditemukan pada surah Alqashash ayat 56, Albaqarah ayat 142 dan 272, serta Ali Imran ayat 73.
Ayat ini rupanya tepat disematkan pada Sara Bokker, seorang model, aktris, sekaligus aktivis dan instruktur fitnes. Allah memberikan hidayah dan petunjuk padanya untuk menerima kedamaian agama Islam.
Kehidupannya sebagai seorang model, aktris, dan pelatih fitnes mulai dirasakannya sebagai sebuah rutinitas yang membosankan dan hanyalah gaya hidup semata.
Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar, Bokker menikmati kehidupan yang serbagemerlap. Ia pernah tinggal di Florida dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamor di Amerika. Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga penampilannya agar menarik di mata orang banyak.
Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa selama ini dirinya sudah menjadi budak mode. Dirinya menjadi tawanan penampilannya sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam kehidupan yang serbaglamor.
Dunia entertainment yang telah membesarkan namanya itu tak membuat hidupnya menjadi lebih tenang, damai, dan nyaman. Kerap kali, ia mengalami ketegangan dan kebingungan dalam menjalani hidup. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari pesta ke pesta dan alkohol menuju ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial, dan mempelajari berbagai agama.
Perkenalannya dengan agama Islam justru diawali ketika banyak orang menganggap agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW ini sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, terorisme, pedang, dan lain sebagainya.
Apalagi, saat terjadinya peristiwa pengeboman World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan jaringan Islam. Peristiwa yang menewaskan sekian ribu orang itu begitu membekas di benaknya.
Namun, di balik upaya sekelompok orang mendiskreditkan Islam, Sara Bokker menemukan hidayah Allah. Ia mulai menaruh perhatian besar pada agama Islam. Benarkah agama Islam sebagai tempat teroris?
''Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, dan dunia teroris. Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia,'' papar Sara.
Pandangannya tentang Islam belum berubah. Namun, keinginannya untuk mengenal agama ini begitu kuat. Hingga akhirnya ia pun menemukan sebuah Alquran yang dikemas secara apik. Ia pun kemudian berusaha untuk membaca (terjemahannya--Red) dan mempelajari isinya. Ia mempelajari kehidupan, penciptaan, dan hubungan antara Pencipta (Khalik) dan yang diciptakan (makhluk).
''Isi Alquran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang paling dalam, tanpa perlu saya menginterpretasikan atau menanyakannya pada pastor,'' tambahnya.
Inilah kebenaran firman Allah yang tertuang dalam surah al-An'am ayat 125. ''Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan, barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.''
Sara Bokker pun mulai menemukan jati dirinya kembali. Jiwanya yang dahulu labil, goyah, dan gampang putus asa secara perlahan bangkit kembali. Ia benar-benar menemukan kedamaian ketika memahami kitab suci Alquran yang selama ini dipandang negatif oleh sekelompok orang Barat. Baginya, Alquran telah memberikan petunjuk dan pencerahan dalam mengarungi kehidupan yang lebih baik.
Maka, tanpa ragu dan bimbang, Sara Bokker, seorang sang model, pelatih fitness, dan aktris yang telah menjadi salah satu public figure, akhirnya mendeklarasikan diri menjadi seorang Muslimah. Asyhadu an Lailaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.
Kedamaian berjilbab Ia pun memeluk Islam. Ia telah menemukan jalan kebenaran. Dan, Sara Bokker mendapatkan kedamaian dalam Islam. Karena itu, ia pun langsung menunjukkan kecintaannya pada Islam dan berusaha menjalankan segala perintah agama Islam dengan baik dan benar. Ia lalu mengganti dan mengubah penampilannya, dari yang sebelumnya seksi dan memakai baju superketat berganti menjadi pakaian yang bersahaja dengan pakaian yang longgar dan jilbab. Ia menutupi seluruh auratnya.
''Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslimah dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, di mana beberapa hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini, atau pakaian kerja yang elegan,'' tutur Bokker.
Setelah mengenakan busana Muslimah, terang Bokker, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi seorang perempuan. Ia merasakan rantai yang selama ini membelenggunya sudah terlepas dan akhirnya menjadi orang yang bebas.
Tak lama berselang, setahun setelah mengikrarkan diri menjadi Muslimah, Allah menganugerahinya seorang suami yang baik dan bisa mengajak dirinya menjadi Muslimah yang taat beribadah.
Dengan dukungan suaminya, ia pun menggunakan jilbab lengkap dengan cadarnya (burqa). Kendati suaminya telah menyampaikan bahwa jilbab hukumnya wajib, sedangkan cadar tidak wajib, Sara Bokker yakin dengan bercadar, dirinya akan makin nyaman. Karena itu, ia pun mengambil keputusan menjadi Muslimah yang sesungguhnya.
''Alasannya, saya merasa Allah akan lebih senang dan saya merasa lebih damai daripada cuma mengenakan jilbab saja,'' kata Bokker.
Perjuangkan Kebebasan Berbusana Muslimah
Tak lama setelah ia mengenakan pakaian Muslimah lengkap dengan cadarnya, media massa setempat banyak memberitakan pernyataan dari para politikus, pejabat Vatikan, serta kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa cadar (niqab atau burqa) adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial, dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai pertanda keterbelakangan.
Sara tak mau ambil peduli. Ia menganggap pernyataan sang pejabat tersebut sangat munafik. ''Pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para pejuang kebebasan itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar,'' kritiknya.
Sara Bokker yang kini berganti menjadi Muslimah berjanji akan terus aktif di dunia perempuan dan feminis. Ia sebagai seorang feminis Muslim yang berseru kepada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh kepada suami-suami mereka agar menjadi seorang Muslim yang baik. Selain itu, mereka juga membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia.
Di samping itu, Sara Bokker juga menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemungkaran, menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, memperjuangkan hak berjilbab ataupun bercadar, serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya.
Ia mengungkapkan, banyak mengenal Muslimah yang mengenakan cadar dari kaum perempuan Barat yang lebih dulu menjadi mualaf. Beberapa di antaranya, kata Sara Bokker, bahkan belum menikah. Kendati sebagian keluarga dan lingkungan mereka menentang penggunaan cadar, '' Mereka tetap menganggap bahwa mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri,'' tegasnya.
Jika sebelumnya bikini dan kehidupan glamor ala Barat menjadi simbol kebebasan dirinya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, kini simbol-simbol kebebasan tersebut tidak lagi membuatnya merasa bahagia dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Mulai saat ini, kedua simbol kebebasan tersebut telah digantikan dengan busana Muslimah lengkap beserta cadar, yang menurutnya, adalah sebuah simbol baru bagi kebebasan perempuan dalam mencari jati dirinya dan yang berhubungan dengan sang Pencipta.
''Kepada kaum perempuan, janganlah mudah menyerah kepada stereotipe negatif yang ditujukan kepada pakaian Muslimah ini. Karena, Anda (sekalian) tidak akan mengetahuinya ada yang hilang dari diri Anda.'' Irg/dia/sya/taq
Sumber: http://www.republika.co.id
